<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PPM MANAJEMEN</title>
	<atom:link href="http://jurnalmanajemen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com</link>
	<description>Sumber Informasi Manajemen</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Jan 2010 05:42:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jurnalmanajemen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PPM MANAJEMEN</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalmanajemen.wordpress.com/osd.xml" title="PPM MANAJEMEN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jurnalmanajemen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menciptakan Peluang untuk Mengembangkan Keunggulan</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/menciptakan-peluang-untuk-mengembangkan-keunggulan/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/menciptakan-peluang-untuk-mengembangkan-keunggulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 07:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Sumber Daya Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/menciptakan-peluang-untuk-mengembangkan-keunggulan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Octa Melia Jalal * Berdasarkan hasil Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Center of Human Capital Development &#8211; PPM Manajemen dan majalah Human Capital, terindentifikasi beberapa perilaku unggul dari para wanita pemimpin yang dirasakan oleh bawahannya. Mengacu kepada kamus kompetensi yang biasa dipakai perusahaan-perusahaan di Indonesia, perilaku tersebut dapat diasosiasikan sebagai kompetensi keinginan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=43&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :  Octa Melia Jalal *</p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/woman-leader.jpg"><img class="size-full wp-image-44 alignleft" title="woman leader" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/woman-leader.jpg?w=450" alt=""   /></a>Berdasarkan hasil Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Center of Human Capital Development &#8211; PPM Manajemen dan majalah Human Capital, terindentifikasi beberapa perilaku unggul dari para wanita pemimpin yang dirasakan oleh bawahannya. Mengacu kepada kamus kompetensi yang biasa dipakai perusahaan-perusahaan di Indonesia, perilaku tersebut dapat diasosiasikan sebagai kompetensi keinginan berprestasi, katalisator perubahan, fleksibilitas, mengembangkan orang lain, dan komunikasi. Kekhasan ini menjadi lebih kuat karena dalam penelitian talenta yang dilakukan oleh PPM Manajemen dan LEAD PRO terhadap ratusan wanita manajer, terindetifikasi bahwa talenta yang mereka miliki di atas rata rata orang Indonesia.</p>
<p>Dengan demikian, bila seorang wanita ingin menjadi pemimpin yang sukses, sebaiknya ia berkonsentrasi untuk mengakuisisi kompetensi-kompetensi unggul tersebut. Paling tidak, ia harus memiliki pengetahuan yang memadai, mampu memperlihatkan keahlian yang timbul dari pengalamannya, serta memiliki talenta yang mendukung pencapaiannya.</p>
<p><span id="more-43"></span>Seorang wanita yang ingin membuktikan bahwa ia sudah memiliki kompetensi katalisator perubahan, maka wanita tersebut harus dapat memperlihatkan pemahaman tentang cara mengidentifikasi perubahan dan mengelola pelaksanaannya. Ia juga harus bisa memperlihatkan kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi dukungan dan hambatan organisasi saat melakukan perubahan dan mendisain strategi perubahan berdasarkan hasil analisis tersebut.</p>
<p>Harus diakui, hingga saat ini sebagian besar perusahaan di Indonesia belum memiliki strategi pengembangan yang berbasis kompetensi sehingga banyak pengembangan yang diberikan perusahaan kepada karyawan hanya sebatas pengajaran di dalam kelas. Proses pengembangan kompetensi hanya sukses bila dilakukan di luar kelas dan berkorelasi dengan pekerjaan. Oleh karena itu bagi para wanita pekerja yang ingin sukses menjadi pemimpin di masa datang, ia diharapkan dapat mengembangkan kompetensi kepemimpinannya secara mandiri. Proses pengembangan kompetensi yang disarankan untuk dilakukan adalah :</p>
<p>•Identifikasi talenta. Jika wanita tersebut memiliki talenta maximizer, strategic, communication, developer, dan achiever maka ia dapat meyakini diri termasuk wanita yang mempunyai potensi untuk berhasil sebagai pemimpin.<br />
•Usahakan untuk mengetahui profil kompetensi manajerial di dalam perusahaan yang berkaitan dengan kompetensi keinginan berprestasi, katalisator perubahan, fleksibilitas, mengembangkan orang lain dan komunikasi.<br />
•Identifikasi tuntutan di setiap perilaku dan menjadikannya sasaran pengembangan dalam waktu tertentu. Tiga kompetensi dalam waktu 6 bulan merupakan sasaran yang luar biasa.<br />
•Perjuangkan setiap kesempatan untuk mempraktikkan kompetensi tersebut baik dalam lingkup pekerjaan sendiri maupun di luar itu seperti kepanitiaan dan kerja sosial. Jangan lupa untuk meminta umpan balik dari orang lain yang terlibat dalam penugasan itu.<br />
•Rajinlah berdiskusi dan menambah pengetahuan yang dapat meningkatkan keahlian untuk memperlihatkan perilaku yang ditetapkan.</p>
<p>Dengan memiliki paradigma untuk selalu mengembangkan kompetensi kepemimpinan secara mandiri, diharapkan jumlah wanita pemimpin di berbagai perusahaan dan lembaga akan semakin bertambah.</p>
<p>*Penulis adalah Staf Profesional bidang SDM PPM Manajemen</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=43&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/menciptakan-peluang-untuk-mengembangkan-keunggulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/woman-leader.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">woman leader</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teaser Advertising &amp; Buzz Marketing</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/teaser-advertising-buzz-marketing/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/teaser-advertising-buzz-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 07:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Pemasaran]]></category>
		<category><![CDATA[buzz marketing]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[james indra widyaharsana]]></category>
		<category><![CDATA[publicity]]></category>
		<category><![CDATA[publisitas]]></category>
		<category><![CDATA[ripple effect]]></category>
		<category><![CDATA[teaser advertising]]></category>
		<category><![CDATA[transformers]]></category>
		<category><![CDATA[viral marketing]]></category>
		<category><![CDATA[WOW effect]]></category>
		<category><![CDATA[WOW marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/teaser-advertising-buzz-marketing/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: James Indra W Widyaharsana, ST MM* Ketika film Tranformers the Movie diputar di bioskop, para penonton dikejutkan oleh sebuah trailer film yang misterius. Trailer berdurasi pendek tersebut melukiskan seolah-olah seorang amatir yang menggunakan handycam menangkap serangan besar yang terjadi di kota New York. Tidak jelas serangan apa namun menyebabkan patung Liberty hancur. Tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=40&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: James Indra W Widyaharsana, ST MM*</p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/buzz-marketing.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-57" title="buzz-marketing" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/buzz-marketing.jpg?w=158&#038;h=240" alt="" width="158" height="240" /></a>Ketika film<em> Tranformers the Movie </em>diputar di bioskop, para penonton dikejutkan oleh sebuah trailer film yang misterius. Trailer berdurasi pendek tersebut melukiskan seolah-olah seorang amatir yang menggunakan handycam menangkap serangan besar yang terjadi di kota New York. Tidak jelas serangan apa namun menyebabkan patung Liberty hancur. Tidak ada judul, tidak ada keterangan bahkan tidak jelas maksud dari klip tersebut. Namun hal itu cukup membuat klip tersebut menjadi bahan pembicaraan dari para penonton. Pembicaraan tersebut meluas dengan cepatnya. Beberapa hari kemudian barulah produser J.J Abrams mengumumkan bahwa klip tersebut merupakan trailer film Cloverfield.</p>
<p>Setelah itu banyak blog, website di internet yang membahas mengenai klip tersebut. Banyak pula yang mengupload klip tersebut di situs-situs video seperti youtube. Spekulasi bermunculan di kalangan para pencinta film. Apakah film itu bercerita tentang serangan monster? Teroris?</p>
<p><span id="more-40"></span>Iklan misterius tersebut bertujuan merangsang rasa penasaran calon konsumen, dengan harapan akan menciptakan awareness yang cukup tinggi dengan biaya yang relatif rendah. Biaya yang relatifrendah ini diperoleh karena promosi lebih banyak dilakukan oleh konsumen yang membicarakan produk tersebut. Strategi pemasaran  dengan menggunakan pembicaraan konsumen ini dikenal dengan istilah Buzz Marketing. Ada juga yang menyebutnya Viral Marketing. Iklan yang bersifat memancing rasa penasan ini dikenal dengan istilah Teaser Advertising. Keuntungan lain yang bisa diperoleh dari buzz marketing adalh kredibilitas, mengingat promosi ini dilakukan oleh pihak ke 3 yang tidak mendapatkan keuntungan. Teaser Advertising dilakukan sebelum produk diluncurkan.</p>
<p>Ada bermacam cara untuk memfasilitasi terjadi buzz marketing. Teknik-teknik publicity menjadi salah satu cara untuk buzz marketing. Situs-situs seperti Youtube, forum Kaskus juga mempermudah dilakukannya Buzz Marketing.</p>
<p>Teaser Advertising merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk memfasilitasi Buzz Marketing. Jika dijalankan dengan baik Teaser advertising dapat membuat ripple effect. Ibarat sebuah batu dilemparkan ke kolam. Pada saat batu tersebut menyentuh air, muncul sebuah bulatan gelombang, yang kemudian muncul lagi bulatan-bulatan gelombanga berikutnya yang makin besar dan meluas, menjauh dari pusatnya. Itulah yang disebut ripple effect.</p>
<p>Namun Teaser Advertising atau yang juga dikenal dengan Mystery advertising sulit untuk dijual dan sulit untuk berhasil. Banyak perusahaan besar termasuk beberapa online teaser advertising. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar Teaser Advertising dapat berhasil menciptakan buzz marketing yang positif.</p>
<p>1.Lebih bersifat Hedonis<br />
Karena sifatnya yang lebih berhubungan dengan perasaan (afeksi) dibandingkan dengan kognisi dengan memancing rasa penasaran, teaser marketing tentunya akan lebih baik diterapkan pada produk-produk yang bersifat hedonis. Bisa juga Teaser Advertising diaplikasikan pada produk dan layanan dimana afeksi lebih menjadi pertimbangan dibandingan dengan kognisi<br />
Walaupun sebenarnya tidak tertutup kemungkinan untuk diaplikasikan pada produk-produk yang lebih bersifat fungional dan pertimbangan pembelian lebih kognitif. Namun hal itu perlu usaha yang besar sekali, dimana hal itu menghilangkan esensi dari buzz marketing itu sendiri.<br />
2.Fokus<br />
Karena sifatnya membangun rasa penasaran, pelanggan tidak perlu dijejali dengan detail-detal yang panjang. Selain itu banyaknya informasi juga tidak akan membantu terjadinya Buzz Marketing. Pertama karena banyaknya informasi akan membingungkan pelanggan, kemudian yang kedua informasi yang disebarkan mereka juga akan beraneka ragam, sehingga dapat mengganggu pesan utama yang ingin disampaikan oleh pemasar.<br />
3.Sederhana<br />
Teaser advertising yang dilakukan harus mudah dimengerti agar dapat menghasilkan ripple effect. Ini merupakan suatu hal yang sulit dilakukan karena faktor penasaran merupakan inti dari Teaser Advertising. Bagaimana suatu pesan cukup jelas untuk dimengerti tanpa menghilangkan unsure penasaran merupakan seni tersendiri. Dalam trailer film Cloverfield, bagian akhir terlihat kepala patung Liberty jatuh di jalan utama kota New York setelah meledak dan terlempar. Pesan yang disampaikan jelas sederhana: sesuatu yang dahsyat terjadi di New York, namun apa yang terjadi tidak jelas menjadi unsur penasaran.<br />
4.Relevan<br />
Internet advertising dengan menggunakan banner saat ini telah mengalami tingkat  clutter yang tinggi karena banyaknya banner dari para pemasang iklan. Teaser Advertising dapat pula dilakukan melalui internet banner.<br />
Ada sebuah Teaser Banner Advertising yang cukup menarik. Banner ini seperti permainan (game) yang mengajak kita mengklik banner tersebut untuk bermain game tersebut. Jika menang, kita akan dibawa ke situs yang dituju. Permainan pada banner tersebut adalah permainan olahraga, tetapi setelah kita memenangkan permainan tersebut kita dibawa situs yang berjualan ringtone. Tidak ada relevansinya sama sekali.<br />
5.WOW Factor<br />
Berapa banyak dari Anda yang telah menyaksikan film Iron Man yang diperankan oleh Robert Downey JR?. Berapa banyak dari para penonton film ini yang menunggu sampai akhir kredit penutupan selesai?. Mungkin hanya 1 dari 100 orang saja yang melakukannya, karena jika Anda melakukannya mungkin Anda termasuk orang yang “kurang kerjaan”.<br />
Tahukah Anda, stelah kredit penutupan film tersebut, ada satu adegan kecil dimana Tony Stark bertemu dengan oleh Nick Fury yang diperankan oleh Samuel L Jackson. Nick Fury adalah tokoh dalam komik Marvel dimana dia sering berperan sebagai koordinator Avengers, persatuan para pahlawan super dimana anggotanya termasuk Iron Man, Hulk yang telah dibuat filmnya. Marvel bersama Paramount Picture melakukan Teaser Advertising yang sangat membuat penonton penasaran, apakah akan dibuat film tentang Avengers?. Sampai detik ini belum pernah studio Hollywood membuat film berbiaya besar untuk kelompok superheroes. Teaser ini diteruskan di film Incredible Hulk yang dirilis beberapa saat setelah Iron Man. Di akhir film ini Tony Stark muncul dan pembicaraan mengarah ke Avengers, walaupun tidak ia sebutkan secara spesifik.</p>
<p>WOW Factor merupakan hal yang paling penting yang perlu ada dalam Teaser Advertising. WOW faktor terdiri dari rasa kekaguman dan penasaran. Teaser Avengers dan Cloverfield keduanya menimbulkan kedua perasaan tersebut.</p>
<p>Target market dari buzz marketing itu sendiri adalah para influencer. Untuk Teaser Advertising, target market menjadi pelanggan sekaligus influencer.</p>
<p>Kelika film Cloverfield akhirnya dirilis, film ini langsung menduduki peringkat pertama di berbagai Negara dengan menhasilkan $16,930,000 di hari pertama pertunjukannya di Amerika Serikat dan Canada.  Namun ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Sulitnya mengerti jalan cerita dan ketidaknyaman dalam melihat film ini menyebabkan banyak penonton menjadi kecewa. Cloverfield hanya bertahan 1 minggu di puncak peringkat film di Amerika Serikat. Bahkan di minggu kedua film ini sudah terlempar dari 10 besar. Buzz Marketing yang telah berjalan dengan begitu baiknya kini juga menjadi boomerang . Walaupun demikian Cloverfield tetap menghasilkan $170,602,318 dari seluruh dunia, membuatnya menjadi film pertama yang menghasilkan 100 jula dolar pada tahun 2008.</p>
<p>Teaser Advertising merupakan jenis promosi yang mungkin paling sulit dilakukan. Namun jika berhasil maka promosi ini akan memberikan efek yang sangat besar bagi kegiatan buzz marketing. Namun hal itu juga harus didukung dengan kualitas produk untuk menjamin kepuasan pelanggan. Hal itu disebabkan oleh karena buzz marketing dengan menggunakan teaser advertising ini dapat menjadi boomerang dan pelanggan akan menyebarkan berita yang buruk mengenai produk kita.</p>
<p>* Penulis adalah Staf Profesional bidang Pemasaran PPM Manajemen</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=40&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/teaser-advertising-buzz-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/buzz-marketing.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">buzz-marketing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bersiaplah Menghadapi Economic Tsunami</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/bersiaplah-menghadapi-economic-tsunami/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/bersiaplah-menghadapi-economic-tsunami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 07:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alan greenspan]]></category>
		<category><![CDATA[economic tsunami]]></category>
		<category><![CDATA[george soros]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[james indra widyaharsana]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[lehman brothers]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[mortgage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/bersiaplah-menghadapi-economic-tsunami/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : James Indra W Widyaharsana, ST MM*) Kebangkrutan Lehman Brothers yang telah berdiri sejak 1850, mungkin terasa jauh dengan dunia ekonomi Indonesia. Namun efek tsunami yang beruntun akan dapat juga mempengaruhi pasar riil Indonesia. Tsunami yang berasal dari bahasa Jepang memiliki arti &#8220;ombak besar di pelabuhan”. Tsunami merupakan ombak yang terjadi setelah sebuah gempa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=39&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : James Indra W Widyaharsana, ST MM*)</p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/ecomomic-tsunami.jpg"><img class="size-medium wp-image-46 alignleft" title="ecomomic tsunami" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/ecomomic-tsunami.jpg?w=179&#038;h=210" alt="" width="179" height="210" /></a>Kebangkrutan Lehman Brothers yang telah berdiri sejak 1850, mungkin terasa jauh dengan dunia ekonomi Indonesia. Namun efek tsunami yang beruntun akan dapat juga mempengaruhi pasar riil Indonesia.</p>
<p>Tsunami yang berasal dari bahasa Jepang memiliki arti &#8220;ombak besar di pelabuhan”. Tsunami merupakan ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut. Jika gelombang tersebut menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat. Ombak tersebut hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut saat melintasi di laut dalam, tetapi di daerah pantai ombak tersebut meningkat hingga ketinggiannya dapat mencapai 30 meter pantai. Tsunami merupakan efek turunan dari gempa dan sebagainya yang terjadi di laut.</p>
<p>Pada masa pemerintahan presiden Ronald Reagan, kebijakan ekonomi diarahkan pada pasar liberal berdasarkan keyakinan bahwa pasar akan melakukan koreksi sendiri atas kesalahan (laissez-faire movement). Oleh karena itu Ronald Reagan menghapus dan mengganti banyak peraturan bagi bank, dan institusi financial. Pemerintah Reagan juga melandaskan ekonomi pasar bebas dengan pinjaman, yang secara akumulatif menumpuk hingga sekarang.</p>
<p><span id="more-39"></span>Ketika Alan Greenspan menjabat sebagai Chairman of the Federal Reserve pada tahun 2001-2006, interest rate diturunkan secara drastic dari 6,5% menjadi 1%. Rakyat Amerika dapat menikmati pinjaman dengan bunga rendah untuk pembiayaan rumahnya. Namun dengan meningkatnya pembelian rumah, maka harga-harga rumahpun merangkak naik. Pendapat bahwa investasi rumah merupakan investasi yang pasti menguntungkan, banyak rakyat Amerika mengambil pinjaman dalam jumlah besar dan membeli beberapa rumah di luar kemampuan finansialnya. Sehingga resiko gagal bayar menjadi besar. Kelompok ini masuk dalam kelompok subprime yaitu yang memiliki resiko gagal bayar yang tinggi. Bahkan tidak sedikit yang melakukan manipulasi dalam mengambil kredit rumah (mortage fraud).</p>
<p>Antara 2004 sampai 2006, Fed menaikan interest rates sebanyak 17 kali, increasing dari 1% to 5.25%. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya gagal bayar pada bisnis property. Karena kebijakan pasar bebas yang diterapkan pemerintahan Reagan, banyak institusi financial di Amerika Serikat membuat instrument derivative untuk diperdagangkan sebagai investasi yaitu penjualan surat hutang. Surat hutang Subprime Mortgage juga menjadi instrument yang dipergadangkan secara luas. Akibatnya efek subprime mortgage menjadi meluas di luar pasar property. Jatuhnya nilai surat hutang ini menyebabkan banyak institusi kesulitan likuiditas karena diinvestasikan ke subprime mortgage dan nilainya jatuh.<br />
Kondisi ini menyebabkan nilai-nilai saham jatuh. Jatuhnya nilai saham ini menyebabkan para spekulan di pasar uang melakukan tindakan lain untuk mendapatkan keuntungan.<br />
Tindakan yang pertama adalah dengan melakukan short sell untuk mendapatkan keuntungan dari saham yang tengah jatuh. Pada Short selling trader meminjam dana (dengan margin) untuk menjual saham yang belum dimiliki dengan harga tinggi dengan harapan akan membeli kembali lalu mengembalikan pijaman saham ke pialangnya pada saat saham turun. Makin tertekannya saham-saham menyebabkan para spekulan tidak lagi puas dengan short selling, tapi juga Naked short selling, menjual saham tanpa meminjam terlebih dulu. Tekanan naked short selling inilah salah satu penyebab kebangkrutan Lehman Brother yang nilai sahamnya turun sebesar 90%. Naked short sell ini dimungkinkan lagi-lagi karena pasar yang sangat liberal.<br />
Ben Bernanke, penerus Alan Greenspan mengambil langkah melarang tindakan naked short sell. Suatu langkah yang juga dilakukan oleh banyak bursa di dunia. Spekulan kembali mencari alternative untuk berspekulasi. Kembali minyak mentah sebagai komoditi yang tak terbarukan menjadi incaran. Dalam sekejab, harga minyak naik menembus angka $100 kembali.<br />
Apa akibatnya? Daya beli masyarakat di seluruh dunia turun. Pasar riil turut tersendat. Lagi-lagi karena liberalisasi pasar yang sampai menyentuh komoditi utama dunia sekalipun seperti minyak mentah dan bahan pangan yang menjadi kebutuhan dasar manusia.<br />
Pasar Amerika Serikat merupakan pasar tujuan ekpor utama bagi banyak Negara seperti CIna, Jepang serta Indonesia. Turunnya daya beli masyarakat Amerika tentunya akan memukul kinerja eksportir di negara-negara ini.<br />
Bagaimana dengan pasar riil lokal yang tidak berorientasi ekspor? Selain terkena dampak penurunan daya beli masyarakat Indonesia, para pelaku usaha juga akan menghadapi saingan baru. Produsen asal Cina yang kehilangan pasar di Amerika akan mencari alternatif pasar baru, salah satunya Indonesia yang dengan 220 juta penduduk menjadi pasar yang sangta potensial. Produk asal Cina akan membanjiri Indonesia menyebabkan produk Indonesia semakin sulit bersaing walaupun di negeri sendiri.</p>
<p>Peran Para Pelaku Bisnis<br />
Apa yang dapat dilakukan? Pertama-tama bagi mereka yang berorientasi ekspor dapat mencari alternative pasar baru yang sedang berkembang. Timur Tengah, Rusia, Afrika Selatan merupakan pasar yang berkembang pesat. Namun Indonesia tidak sendiri, Cina dan Negara eksportir lain juga akan bersaing masuk ke pasar baru tesebut.<br />
Eksportir Indonesia perlu meningkatkan daya saing agar produknya dapat bersaing mutunya dengan pesaing. Bersaing secara harga akan sulit mengingat ekonomi berbiaya rendah Cina menjadi keunggulan yang sulit ditandingi. Para eksportir juga perlu segera bertindak cepat membangun jaringan ke Negara-negara tersebut. Untuk ekspor ke Mesir misalnya dibutuhkan akantor perwakilan. Untuk ekspor ke Afrika Selatan perlu L/C dari bank setempat. Saat ini L/C dari Malaysia dan Singapura dapat diterima di beberapa Negara tujuan ekspor tapi L/C dari Indonesia tidak, sehingga para eksportir asal Indonesia harus menggunakan L/C dari kedua Negara tersebut.<br />
Bagi semua pelaku usaha di Indonesia perlu meningkatkan daya saing. Bukan hanya kualitas barang tetapi juga teknologi pengolahan sehingga tercapainya efisiensi produksi untuk mendukung strategi Overall Cost Leadership. Integritas para pengusaha dapat menjadi keunggulan sendiri. Layanan yang prima didukung dengan integritas pengusaha akan memberi peluang yang lebih besar untuk menjaga sustainability dari suatu usaha, sehingga para pembeli tidak mudah pindah ke penjual lain.</p>
<p>Peran Pemerintah<br />
Peran pemerintah juga tak kalah penting. Pemerintah perlu memproteksi masuknya produk-produk impor yang dapat menghancurkan pasar lokal. Namun para pelaku usaha dalam negeri juga tidak boleh keenakan dengan perlindungan pemerintah. Mereka tetap harus dapat meningkatkan daya saing.<br />
Pemerintah juga turut berperan dalam meningkatkan daya saing para pelaku usaha di Indonesia. Mulai dari penghapusan ekonomi berbiaya tinggi yang disebabkan korupsi, pungutan liar dan biaya-biaya siluman lainnya. Sapai dengan pembuatan kebijakan ekonomi yang mendukung dan menfasilitasi pertumbuhan ekonomi.<br />
Pemerintah juga dapat mulai melonggarkan likuiditas. Sejak Desember 2007, jumlah likuiditas yang macet di Bank Indonesia meningkat sampai sekitar 1000%. Sehingga bank-bank nasional kesulitan menyalurkan likuiditas. Namun tentunya pelonggaran likuiditas ini perlu dibarengi dengan pengawasan oleh pemerintah. Dana yang disalurkan sebaiknya lebih berfokus pada proyek padat karya yang memiliki potensi keuntungan yang tinggi.</p>
<p>George Soros menyebutkan bahwa krisi ini merupakan akibat yang beruntun dari kebijakan yang dibuat semasa pemerintahan presiden Ronald Reagan. Pemerintahan Reagan gagal untuk mengenali maksud kebijakan yang sebelumnya dibuat oleh preseiden Franklin D. Roosevelt pada tahun 1930an yang mempromosikan keadilan dalam kompetisi ekonomi. Peraturan yang dibuat saat ini mewajibkan transparansi bagi investor. Rentetan ini menjadi efek-efek tambahan lainnya yang terus merembet dan membesar bahkan ke sektor riil di negara kita seperti gerakan tsunami.<br />
Peringatan dini terhadap tsunami menjadi penting agar mereka yang akan terkena tsunami dapat melakukan tindakan penyelamatan diri. Saat ini peringatan dini untuk economic tsunami telah berbunyi, tidak ada pilihan lain selain melakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasinya.</p>
<p>*Penulis adalah Staf Profesional bidang Pemasaran PPM Manajemen</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=39&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/12/bersiaplah-menghadapi-economic-tsunami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/ecomomic-tsunami.jpg?w=256" medium="image">
			<media:title type="html">ecomomic tsunami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mantra Baru: Human Capital</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/mantra-baru-human-capital/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/mantra-baru-human-capital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 02:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[asset]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Adi Subagyo]]></category>
		<category><![CDATA[Employee Stock Option Programme]]></category>
		<category><![CDATA[ESOP]]></category>
		<category><![CDATA[human capital]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[personalia]]></category>
		<category><![CDATA[sumber daya manusia]]></category>
		<category><![CDATA[survey kepuasan karyawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Bambang Adi Subagyo*) “Karyawan merupakan asset perusahaan. Tetapi, pada prakteknya lebih sering menjadi keset para majikan” kata almarhum Purnomosidi, Menteri Pekerjaan Umum masa Orde Baru. Orang Indonesia memang punya cara sendiri untuk menciptakan lelucon bagi penderitaannya. Bangsa ini, dengan cara yang sama,juga tidak kapok untuk terus terpancing ikut mode – jurus  manajemen terbaru. Entah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=15&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Bambang Adi Subagyo*)</strong></p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/human-capital.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-54" title="human capital" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/human-capital.jpg?w=192&#038;h=192" alt="" width="192" height="192" /></a>“Karyawan merupakan <em>asset </em>perusahaan. Tetapi, pada prakteknya lebih sering menjadi keset para majikan” kata almarhum Purnomosidi, Menteri Pekerjaan Umum masa Orde Baru. Orang Indonesia memang punya cara sendiri untuk menciptakan lelucon bagi penderitaannya. Bangsa ini, dengan cara yang sama,juga tidak kapok untuk terus terpancing ikut mode – jurus  manajemen terbaru.</p>
<p>Entah tahun berapa, kita semua mengenal istilah <em>personalia</em> :<strong> </strong>satu bagian dari perusahaan yang tugasnya mengurus yang segala hal hal yang berkaitan dengan administrasi karyawan. Karena aturan perburuhan kala itu masih belum sejelas sekarang, kesan kuat &#8220;per&#8221; dari kata <em>personalia</em> terasa jadi olok olok. Per<strong>, </strong>bisa memanjang atau  memendek sesuai situasi .</p>
<p>Jaman bergeser, bagian <em>personalia</em> berubah menjadi bagian SDM (Sumber daya Manusia). Slogan yang nyaring waktu itu adalah : “Karyawan bukan lagi factor produksi tetapi merupakan <em>asset</em> perusahaan” Lagi lagi, bangsa ini mampu menemukan <em>plesetan</em> baru. Dari <em>asset</em> di plesetkan menjadi <em>keset.</em></p>
<p>Kemudian muncul mantra baru : <em>Human Capital.</em> Perubahan apa yang akan terjadi, masih belum begitu terasa bagi sebagian besar karyawan. Bagi yang mengenal pendekatan Neraca perusahaan, posisi <em>asset </em>berseberangan dengan posisi<strong><em> </em></strong><em>capital</em><strong><em>.</em></strong> Adalah layak jika karyawan mengharapkan perubahan  <em>asset </em>menjadi<strong><em> </em></strong><em>capital</em><strong><em> </em></strong>akan berdampak radikal dalam hal  posisi dan perlakuan terhadap perusahaan terhadap karyawan di tempat kerjanya.</p>
<p><span id="more-15"></span>Sebagai karyawan, dengan posisi <em>Capital,</em><strong><em> </em></strong>saya bermimpi – suatu waktu &#8211; bisa menjadi bagian dari pemilik. Setelah sekian lama bekerja dengan setia, perusahaan secara otomatis akan memberikan <em>ESOP (Employee Stock Option Programe)</em><strong><em> </em></strong>-  program pemberian saham secara otomatis kepada karyawan. Posisi saya berubah menjadi karyawan yang merangkap pemilik,  dengan konsekwensi (menyenangkan) terima gaji merangkap deviden. Kebijakan perusahaan, suka atau tidak,  akan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat dengan karyawan &#8211;  dalam kedudukan sebagai bagian dari <strong><em>Capital .</em></strong> Arah perusahaan, bukan ditentukan pemilik saham mayoritas atau orang yang memiliki  kedudukan menentukan, tetapi oleh suara mayoritas karyawan yang setuju dengan kebijakan perusahaan tersebut. Yang lebih menyenangkan lagi, jabatan apapun akan dilelang mirip pemilu, dan tiap orang hanya boleh menjabat dua kali masa jabatan. Setiap pemimpin baru akan memulai masa kepemimpinannya dengan melakukan survey kepuasan karyawan, dan akan diukur ulang tiap tahun untuk mengetahui keberhasilannya dalam memimpin perusahaan.</p>
<p>Tiba tiba, gubrak habis, saya terbangun dengan perasaan cemas. Perusahaan tempat saya bekerja, laporan RUGI LABA nya menyatakan – tertulis dengan bold tebal dan merah &#8211; RUGI BERSIH sekian ratus milyar. Sebagai karyawan yang <em>Capital</em><strong><em>, </em></strong>kedudukan saya sama dengan pemilik: TANGGUNG RENTENG atas semua kerugian perusahaan. Untunglah itu semua cuma mimpi !!!<span id="_marker"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;"><strong>*Penulis adalah Staf Profesional PPM Manajemen</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=15&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/mantra-baru-human-capital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/human-capital.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">human capital</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalur Imbas Krisis Keuangan AS ke Indonesia</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/jalur-imbas-krisis-keuangan-as-ke-indonesia/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/jalur-imbas-krisis-keuangan-as-ke-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 01:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[krisis keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[imbas]]></category>
		<category><![CDATA[aset bersih]]></category>
		<category><![CDATA[cut loss]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[subprime mortgage loans]]></category>
		<category><![CDATA[ekuitas]]></category>
		<category><![CDATA[neraca]]></category>
		<category><![CDATA[AIG]]></category>
		<category><![CDATA[ekspor]]></category>
		<category><![CDATA[impor]]></category>
		<category><![CDATA[APBN]]></category>
		<category><![CDATA[marginal propensity to consume]]></category>
		<category><![CDATA[WTO]]></category>
		<category><![CDATA[Bramantyo Djohanputro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bramantyo Djohanputro*) Imbas krisis keuangan Amerika Serikat (AS) ke Indonesia bisa melalui jalur cepat. Tetapi yang lebih penting adalah mewaspadai imbas jangka panjang, yang dapat mengganggu sektor riil. Jalur-jalur imbas tersebut dapat dipilah menjadi beberapa jalur. Jalur pertama, portofolio, yang dapat terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menanamkan uangnya di pasar finansial AS atau global. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=10&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Bramantyo Djohanputro*)</strong></p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/wallstreet_512.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-59" title="WallStreet_512" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/wallstreet_512.jpg?w=240&#038;h=162" alt="" width="240" height="162" /></a>Imbas krisis keuangan Amerika Serikat (AS) ke Indonesia bisa melalui jalur cepat. Tetapi yang lebih penting adalah mewaspadai imbas jangka panjang, yang dapat mengganggu sektor riil.</p>
<p>Jalur-jalur imbas tersebut dapat dipilah menjadi beberapa jalur. Jalur pertama, portofolio, yang dapat terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menanamkan uangnya di pasar finansial AS atau global. Dengan merosotnya indeks berbagai negara, otomatis nilai aset bersih (NAV, <em>nett asset value</em>) anjlok.</p>
<p>Kerugian ini sulit diatasi. Yang bisa dilakukan segera adalah melakukan <em>cut loss</em>, menjual portofolio tersebut dan memindahkan investasinya ke aset yang lebih aman, termasuk ke dalam reksadana berpenghasilan tetap. Kecuali investor bersedia menunggu pulihnya indeks ke tingkat yang semula.</p>
<p>Jalur kedua, perusahaan multinasional (MNC, <em>multinational companies</em>). Kerugian perusahaan finansial AS yang telah telah teridentifikasi bermasalah dengan <em>subprime mortgage loans</em> berdampak pada turunnya nilai buku ekuitas.</p>
<p><span id="more-10"></span>Untuk jangka pendek, jalur ini masih bisa dianggap aman dengan disetujuinya paket penyelamatan 700 milyar dolar AS ke perusahaan-perusahaan tersebut. Dana sebesar (atau sekecil?) itu digunakan untuk mengambil alih <em>subprime mortgage</em> yang bermasalah (NPL, <em>non performing loans</em>). Posisi neraca perusahaan menjadi sehat, atas tanggungan APBN pemerintah federal AS yang menanggung pinjaman bobrok tersebut.<br />
<!--more--><br />
Perusahaan di Indonesia yang berbisnis dengan lembaga keuangan AS bermasalah tersebut dapat bernafas lega sementara. Paling tidak lembaga-lembaga keuangan tersebut tidak terkena aturan pailit untuk jangka pendek.</p>
<p>Untuk jangka panjang, tindakan tersebut bukan jaminan. Secara keseluruhan, pengambil-alihan kredit bermasalah sebesar 700 milyar dolar AS tersebut belum mampu mendongkrak kinerja lembaga keuangan AS secara signifikan. Bila bank-bank yang diselamatkan masih belum mampu memberi pinjaman ke sektor ril dalam jumlah yang mencukupi, kinerja mereka masih terbatas.</p>
<p>Bagi lembaga keuangan non-bank yang hidup dari portofolio, seperti AIG, kinerjanya sangat bergantung pada kemampuan para manajer investasinya untuk merelokasi portofolio ke efek yang lebih menguntungkan dan lebih tepat saat krisis.</p>
<p>Jalur ketiga, transaksi ekspor ke AS. Dengan sulitnya mendapat dukungan pendanaan, ditambah kondisi ekonomi As yang sedang tidak sehat, ekspor akan turun. As merupakan parner dagang penting untuk Indonesia, dengan ekspor Indonesia mencapai 30% dari total ekspor negeri ini.</p>
<p>Dengan turunnya ekspor, paling tidak dalam dua kwartal ke depan, perlu katup pengaman. Perintisan ekspor ke tujuan lain perlu dikembangkan dalam waktu singkat. Atau mendorong konsumsi dalam negeri untuk menggunakan produk domestik.</p>
<p>Jalur keempat, transaksi impor. Negara-negara lain yang juga menghadapi masalah seperti Indonesia berupaya mencari lahan ekspor untuk produk mereka. Salah satu sasarannya adalah Indonesia, sebuah negara yang sangat terbuka dengan produk luar. Jalur inpor tersebut baik melalui jalur legal maupun selundupan. Semakin besar konsumsi impor, semakin sempit pasar produk domestik, yang akan berdampak pada penurunan laju ekonomi.</p>
<p>Mengatasi jalur imbas ini perlu kerja keras. Impor ilegal sudah merajalela. Impor legal juga membludak. Untuk impor barang modal, seperti mesin, bisa dimalumi untuk sementara ini karena Indonesia masih belum mampu memproduksi sendiri.</p>
<p>Untuk impor barang konsumsi, ada dua hal mendasar yang perlu mendapat pembenahan. Pertama, perlunya pembenahan rantai bisnis secara nasional supaya produk domestik mampu bersaing, paling tidak di negeri sendiri. Isu lama terkait dengan masalah daya saing tersebut antara lain: jeruk medan di Jakarta lebih mahal dari jeruk impor; lahan pertanian dan perkebunan banyak tetapi tidak mampu berproduksi secara intensif; banyak tenaga kerja murah tetapi produktivitas juga rendah; banyak lahan menanggur tetapi tidak mampu berproduksi untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri, lebih suka mendatangkan dari daerah lain bahkan impor.</p>
<p>Kedua, perlu pembenahan kebijakan yang mengarahkan penduduk untuk mengkonsumsi produk domestik. Termasuk di dalamnya adalah belanja negara melalui APBN. Bisa dibayangkan, sisa anggaran nasional yang lebih dari 60% dibelanjakan produk domestik. Dengan <em>marginal prospensity to consume</em> (MPC) mencapai empat saja, satu triliun rupiah belanja langsung APBN ke produk domestik dapat menghasilkan PDB sampai empat triliun rupiah.</p>
<p>Saya bertanya ke Pak Drajad Wibowo lewat SMS, apa mungkin sisa APBN tersebut dibelanjakan khusus untuk produk domestik. Jawabannya, sangat bisa. Aturan main WTO, khususnya mengenai <em>procurement rule</em>, bisa diakali seperti yang dilakukan China dan AS. Bahkan, menurut dia dengan nada semangat, bukan hanya APBN tetapi juga belanja lain termasuk kontrak-kontrak tambang, telkom, dan pembangkit listrik.</p>
<p>Kebijakan tersebut bukan saja mendorong pemerintah dalam berbelanja produk domestik, tetapi juga masyarakat. Seperti masyarakat Jepang, Korea Selatan, Thailand, Jerman, dan beberapa Eropa Timur, yang begitu mencintai dan bangga produk dalam negeri dibandingkan produk impor. Langkah ini mudah digapai bila dengan kepemimpinan yang kuat dalam memberi contoh. Kalau presiden menggunakan kendaraan resmi dan pribadi buatan domestik (bukan sekedar baju batiknya saja), maka seluruh menteri, legislatif, sampai aparat daerah akan berlaku hal yang sama.</p>
<p>Kalau hal tersebut bisa dilakukan, pertumbuhan ekonomi enam persen tahun ini maupun tahun depan tentunya makin optimis bisa dicapai.</p>
<p><strong>*Penulis adalah Direktur Keuangan dan PSDM PPM Manajemen</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=10&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/jalur-imbas-krisis-keuangan-as-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/wallstreet_512.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">WallStreet_512</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemasaran Berkelanjutan (Sustainable Marketing): Realita dan Tantangan</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/pemasaran-berkelanjutan-sustainable-marketing/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/pemasaran-berkelanjutan-sustainable-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 01:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Pemasaran]]></category>
		<category><![CDATA[4p]]></category>
		<category><![CDATA[distribusi]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[konsumen]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pemasaran berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[place]]></category>
		<category><![CDATA[price]]></category>
		<category><![CDATA[product]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[promotion]]></category>
		<category><![CDATA[stakeholders]]></category>
		<category><![CDATA[sustainable marketing]]></category>
		<category><![CDATA[triple bottom line]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Achsan Permas*) Strategi perusahaan dan pemasaran yang dikembangkan oleh manajemen perusahaan, biasanya dikembangkan berdasarkan respon perusahaan terhadap keadaan di luar dan di dalam dirinya. Orang pemasaran biasanya memulai dengan melihat kebutuhan pasar. Bagaimana kecenderungan kebutuhan konsumen akhir akhir ini ? Jumlah manusia di tahun 2008 berjumlah 6 miliar orang, dan diprakirakan pada tahun 2050 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=6&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Achsan Permas*)</strong></p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/sustainable-marketing.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-52" title="sustainable marketing" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/sustainable-marketing.jpg?w=238&#038;h=240" alt="" width="238" height="240" /></a>Strategi perusahaan dan pemasaran yang dikembangkan oleh manajemen perusahaan, biasanya dikembangkan berdasarkan respon perusahaan terhadap keadaan di luar dan di dalam dirinya. Orang pemasaran biasanya memulai dengan melihat kebutuhan pasar. Bagaimana kecenderungan kebutuhan konsumen akhir akhir ini ? Jumlah manusia di tahun 2008 berjumlah 6 miliar orang, dan diprakirakan pada tahun 2050 akan berjumlah 9.2 miliar orang. Saat ini diperkirakan 825 juta orang di dunia kekurangan pangan.Untuk kebutuhan makanan, minuman FAO mengatakan tingkat pertumbuhan kebutuhan jauh di atas tingkat pertumbuhan pasokan dunia. Kebutuhan gandum dan beras terus meningkat sedang luas lahan pertanamannya cenderung turun karena digunakan untuk kebutuhan industri dan komersial lainnya. Akibatnya petani dengan dorongan perusahaan dan pemerintah berusaha meningkatkan produktifitas dengan berbagai inovasinya. Penggunaan pupuk kimia (anorganik), hormon yang dapat merangsang pertumbuhan,  frekuensi tanam terus meningkat untuk memacu produktifitas. Transportasi dan infrastruktur lainnya dibangun untuk mendukung usaha itu, misalnya jalan diperlebar, jumlah kendaraan transportasi ditingkatkan, hutan dibuka dan dikonfersi, hujan buatan dikembangkan, pabrik atau unit pengolahan didirikan, yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan produktifitas, guna memenuhi kebutuhan saat ini. Tetapi sadarkah kita bahwa semua itu dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan anak cucu kita kelak.</p>
<p>Kita lihat keadaan lain di Jakarta. Rasanya setiap rumah membuat dan memiliki sumur terbuka atau sumur bor dan menggunakan pompa air untuk memenuhi kebutuhan air guna memasak, mandi, cuci, dan menyiram tanaman. Bagaimana dengan ketersediaan air tanah saat ini dan di masa depan? Bagaimana dengan kebutuhan air bagi anak cucu kita kelak?</p>
<p><span id="more-6"></span>Dulu luas tanah milik almarhum kakek penulis di Ciamis, Jawa Barat luasnya di atas 10.000 m2, terdiri dari rumah, kebun dan jalan. Tanah ayah penulis di Garut rasanya luasnya 3000 m2 termasuk rumah, kebun dan jalan. Tanah tempat tinggal penulis luasnya 500 m2 termasuk rumah, kebun dan jalan yang tentu makin kecil dan sempit. Itupun sudah termasuk luas untuk ukuran di Jakarta. Saya masih suka membayangkan nanti anak saya dan cucu saya akan tinggal diatas tanah yang luasnya berapa? Apakah mereka sudah tidak bisa punya tanah, kebun dan jalan lagi, hanya rumah saja alias rumah susun atau apartemen?</p>
<p>Luas hutan di Indonesia sudah jelas jauh berkurang, juga luas sawah yang berganti menjadi kawasan hunian dan komersial. Jumlah manusia semakin banyak dan sumber daya relatif terbatas dan bahkan semakin berkurang,</p>
<p>Bagaimana orang pemasaran seyogyanya menyikapi keadaan ini? Potensi pasar semakin membesar, kebutuhan semakin meningkat, pada saat yang sama persaingan juga semakin ketat sehingga menjebak orang pemasaran dan perusahaan untuk selalu berorientasi memenuhi kebutuhan pasar dan pelanggan dengan sebaik, secepat mungkin karena kalau tidak demikian akan berarti kalah dalam persaingan. Dilain pihak kita berhadapan dengan sumber daya yang terbatas dan cenderung berkurang.</p>
<p>The Brudtland Report, tahun 1987 menyatakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengabaikan kemampuan generasi yang akan datang memenuhi kebutuhannya sendiri.</p>
<p>Melihat perkembangan jumlah manusia dan keterbatasan sumber daya saat ini, filosofi pemasaran yang semata hanya memenuhi kebutuhan dan kepuasan pasar atau pelanggan saja sudah tidak memadai. Demikian pula dengan filosofi pemasaran yang memenuhi semua pihak yang berkepentingan atau pemangku kepentingan (stakeholders) juga belum cukup. Dengan memerhatikan masa depan bumi tempat kita hidup, manajemen perusahaan, organisasi dan juga orang pemasaran, perlu juga menerapkan filosofi untuk memenuhi kebutuhan pasar, pelanggan, pemangku kepentingan dan juga kebutuhan generasi yang akan datang seperti diamanatkan dalam the Brudtland Report.<br />
<!--more--><br />
Pemasaran berkelanjutan atau sustainable marketing pada hakekatnya adalah filosofi untuk memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan termasuk pelanggan dengan tidak mengabaikan kebutuhan generasi yang akan datang. Dengan menggunakan filosofi ini, maka sasaran akhir dari suatu kegiatan perusahaan atau organisasi tidak semata mata keuntungan ekonomi, tetapi juga kinerja sosial dan lingkungan, atau dalam istilah umum dikenal dengan ”triple bottom line” yaitu profit, people dan planet atau 3 Ps.</p>
<p>Dengan demikian maka filosofi pemasaran yang berkelanjutan secara ringkas adalah penerapan kebijakan 4 P (produk, promosi, ”price” atau harga &amp; ”place” atau distribusi) untuk mencapai kinerja 3P.</p>
<p>Bagaimana caranya? Misalnya untuk kebijakan produk sebaiknya perusahaan membuat produk sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga dapat mendatangkan laba, tetapi pada saat yang sama tidak merugikan (bahkan sebaiknya menguntungkan) masyarakat dan lingkungan.</p>
<p>Akibatnya bisa saja penggunaan plastik sebagai pembungkus atau kantong belanja kita kurangi dan diganti dengan kertas daur ulang. Yang lebih baik adalah gaya belanja orang tua kita dahulu, dimana kalau belanja ke pasar selalu membawa sendiri keranjang belanja dari rumah, gaya belanja seperti ini tentu mengurangi penggunaan plastik yang berpotensi mengotori lingkungan dan sulit di daur ulang.</p>
<p>Produk pertanian organik sekarang semakin banyak dikembangkan dan semakin diminati karena lebih sehat bagi konsumen dan juga baik untuk lingkungan. Mungkin tidak mudah menerapkannya karena membutuhkan inovasi, kerja keras dan bisa menjadi lebih mahal biaya produksinya.</p>
<p>CSR Europe tahun lalu mengeluarkan panduan untuk penerapan pemasaran berkelanjutan yang berintikan filosofi ”4Ps for 3Ps”</p>
<p>Prinsip utama adalah memanajemeni dampak atas semua keputusan kebijakan penasaran, sehingga ada 3 langkah pokok yang dapat dilakukan oleh orang pemasaran, yaitu; pertama: kenali produk dan atau jasa anda, kedua: telaah dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat, dan ketiga: mengambil langkah untuk meminimalkan dampak negatif tersebut.</p>
<p>Langkah untuk meminimalkan dampak negatif tersebut secara umum dapat berupa keputusan untuk menggunakan kembali (REUSE), mengurangi (REDUCE) dan mendaur ulang (RECYCLE).</p>
<p>Dulu waktu kecil penulis suka diminta oleh ibu untuk membeli kecap ke pasar dan selalu diingatkan jangan lupa bawa botol bekas karena dapat ditukar sehingga penulis tinggal membayar harga isi kecapnya saja. Botolnya akan di daur ulang atau digunakan kembali oleh produsennya.</p>
<p>Cara yang praktis untuk menerapkan prinsip pemasaran berkelanjutan adalah dengan membuat daftar dan mencoba memikirkan alternatif untuk menggunakan kembali, mendaur ulang atau mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>Misalnya terkait dengan kebijakan produk, daftar dapat dimulai dengan; menggunakan bahan apa, bungkusnya menggunakan bahan apa, bagaimana membuat produk tersebut, bagaimana menggunakan produk, bagaimana membuang produk bekas.</p>
<p>Kemudian yang terkait dengan kebijakan distribusi, misalnya daftar dapat dimulai dengan kemasan mengggunakan bahan apa, transportasi menggunakan apa, berapa jumlah barang dalam sekali transportasi, bagaimana produk dipajang, bagaimana produk disimpan  dan dijual. Kalau yang terkait dengan kebijakan harga daftarnya dapat saja berupa, apakah harga sudah termasuk jaminan penggunaan (garansi), garansi apa saja, apakah kebijakan harga mendorong konsumsi, apa dampaknya terhadap konsumen. Kalau kebijakan promosi daftarnya dapat terdiri dari; apakah sudah termasuk cara penggunaan produk, bahan atau materi promosi terbuat dari apa, bagaimana penggunaannya. Dari semua daftar tersebut, cobalah telaah dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan, kemudian apakah dapat dikembangkan dan diterapkan kebijakan reduce, recyle atau reuse.</p>
<p>Apa tantangannya bila kita mau memerapkan prinsip pemasaran berkelanjutan? Kalau di Inggris, perkembangan konsumen yang mementingkan produk yang baik dan bersahabat dengan lingkungan semakin meningkat. Kelompok konsumen ini dikenal dengan ethical consumers atau konsumen yang etis. Bila kelompok konsumen ini cukup besar maka tentu akan menarik bagi perusahaan untuk menerapkan prinsip pemasaran berkelanjutan karena pasarnya sudah ada dan cukup besar. Tetapi di Indonesia, meskipun tidak ada data akurat, diperkirakan kelompok konsumen etis ini masih sangat kecil. Konsumen makanan organik sudah milai tumbuh tetapi jumlahnya belum besar. Tetapi kalau kita menyadari bahwa kebutuhan akan pembangunan dan pemasaran berkelanjutan, maka justru ini menjadi tantangan hingga perusahasan yang menerapkannya saat ini akan menjadi pioneer, dan pioneer adalah mereka yang sangat potensial untuk menjadi pemimpim pasar (market leader). Jadi penerapan prinsip pemasaran berkelanjutan seyogyanya disertai dengan prinsip filosofi pemasaran ”market driving” dan bukan ”market driven”. Perusahaanlah yang harus melakukan inovasi, mendidik pasar atau konsumen kemudian menyebar luaskan jasa dan produknya sehingga tersedia di pasar.</p>
<p>Mengapa menerapkan pemasaran berkelanjutan?</p>
<p>Dengan menerapkan prinsip pemasaran berkelanjutan pada hakekatnya, perusahaan tetap dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan dan pemangku kepentingan, sasaran organisasi juga dapat dicapai dan semua dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan sehingga kepentingan generasi yang akan datang tak terabaikan begitu saja.</p>
<p>Lalu apa keuntungan jangka pendeknya bagi perusahaan? Prinsip ini dapat menjadi pembeda (diferensiasi) merek atau perusahaan dengan pesaing, dapat mendidik pasar, mendorong timbulnya inovasi dan kreatifitas, mengidentifikasi peluang baru di pasar dan banyak lagi.</p>
<p>Charles Darwin pakar yang sudah terkenal, pernah mengatakan bahwa bukanlah mahluk yang terkuat atau terpandai yang dapat bertahan hidup, melainkan mereka yang responsif terhadap perubahan. Mudah mudahan akan banyak perusahaan di Indonesia yang akan dikenang oleh anak cucu kita kelak sebagai perusahaan yang responsif dan bertanggung jawab dalam mengembangkan strategi pemasarannya.</p>
<p><strong>*Penulis adalah Staf Pengajar Marketing Sekolah Tinggi Manajemen PPM</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=6&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/pemasaran-berkelanjutan-sustainable-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/sustainable-marketing.jpg?w=298" medium="image">
			<media:title type="html">sustainable marketing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekompakan Tim dan Produktivitas Kerja Perlu Dijaga</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/kekompakan-tim-dan-produktivitas-kerja-perlu-dijaga/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/kekompakan-tim-dan-produktivitas-kerja-perlu-dijaga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 01:09:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kekompakan tim]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/kekompakan-tim-dan-produktivitas-kerja-perlu-dijaga/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : EVA HOTNAIDAH SARAGIH *) Kekompakan atau cohesiveness merupakan salah satu perangkat pembentuk perilaku dan kinerja tim.Kekompakan diartikan sebagai derajat saling ketertarikan antar anggota tim yang memotivasi mereka untuk tetap menjadi anggota tim tersebut.Setiap tim berbeda dalam hal penentu tingkat kekompakan. Ada tim yang menjadi kompak karena ukuran tim kecil sehingga interaksi yang terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=3&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : EVA HOTNAIDAH SARAGIH *)</strong></p>
<p><a href="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/team.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-50" title="Team" src="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/team.jpg?w=210&#038;h=158" alt="" width="210" height="158" /></a>Kekompakan atau cohesiveness merupakan salah satu perangkat pembentuk perilaku dan kinerja tim.Kekompakan diartikan sebagai derajat saling ketertarikan antar anggota tim yang memotivasi mereka untuk tetap menjadi anggota tim tersebut.Setiap tim berbeda dalam hal penentu tingkat kekompakan.</p>
<p>Ada tim yang menjadi kompak karena ukuran tim kecil sehingga interaksi yang terjadi antar anggota menjadi sangat intensif. Tim lainnya menjadi kompak karena banyak menghabiskan waktu bersama. Sebagai contoh salah satu tim konsultan dari sebuah lembaga konsultasi manajemen yang menamakan diri mereka ‘kelompok sendok merah’, sebuah plesetan dari istilah kapak merah. Kata sendok digunakan untuk menggambarkan penyebab tim ini menjadi kompak, yaitu dikarenakan setiap anggotanya memiliki hobi sama yaitu sama-sama suka makan.</p>
<p>Tim secara rutin menyediakan waktu untuk makan bersama di suatu tempat di luar kantor, tetapi sambil membicarakan dan menyelesaikan isu-isu atau permasalahan yang terkait dengan pekerjaan secara santai.Selain faktor ukuran tim, kekompakan bisa dikarenakan adanya status yang membedakan tim tersebut dengan tim lainnya, misalnya tingkat kesulitan bagi orang baru untuk bergabung ke dalam tim sangat tinggi atau tim dikenal sebagai tim yang sering menghadapi pengalaman menantang yang berhasil diselesaikan bersama.</p>
<p><span id="more-3"></span>Bagi setiap organisasi, kekompakan tim merupakan faktor yang penting karena memiliki hubungan dengan produktivitas kerja.Produktivitas kerja umumnya dinyatakan dalam bentuk efektivitas dan efisiensi. Efektif berarti berhasil memenuhi kebutuhan konsumen atau klien dan bisa diukur di antaranya melalui tingkat penjualan atau pangsa pasar yang berhasil diraih. Sedangkan efisien berarti dapat mencapai efektivitas dengan biaya serendah mungkin. Ukuran efisiensi di antaranya adalah keuntungan per unit penjualan, output per jam kerja karyawan, atau tingkat pengembalian investasi.</p>
<p>Pertanyaan yang muncul,seperti apakah hubungan yang ada antara kekompakan dan produktivitas? Apakah tim yang kompak adalah juga tim yang produktif? Ilustrasi berikut ini diharapkan bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dalam perlombaan perahu dayung beregu yang dilangsungkan di sebuah kampung nelayan, terjadi peristiwa yang menarik.Setelah lomba berjalan beberapa saat, terlihat ada satu perahu yang melesat maju secara terarah menuju titik tujuan,jauh melebihi perahu-perahu lainnya. Hingga beberapa kilometer berikutnya,perahu tersebut tetap bergerak secara terarah dan konsisten. Sedangkan perahu-perahu lainnya ada yang majunya lambat, beberapa kadang berhenti dan berputar- putar di tempat.</p>
<p>Dan yang lebih lucu,ada satu perahu yang juga melaju cukup kencang, tetapi bukan ke arah tujuan,sebagai akibatnya perahu tersebut terlambat tiba di tempat tujuan.Sebagai hasilnya sudah dapat diduga, perahu yang pertama tadilah yang keluar sebagai pemenang. Saat diwawancarai oleh panitia, ketua tim pemenang mengemukakan kunci keberhasilan tim adalah kelompok sepakat untuk fokus dan taat pada instruksi pemimpin tim yang berada di haluan perahu dan seluruh pendayung yang berjumlah 20 orang secara bersama,serempak dan sekuat tenaga mendayung, tidak berhenti hingga tiba di tujuan.</p>
<p>Tim ini menang karena tidak hanya kompak,tetapi juga taat akan kesepakatan (norma) tim.Tim lainnya menyatakan sudah kompak dalam mendayung, hanya saja karena arahan yang diberikan kurang jelas,akibatnya salah tujuan. Sedangkan tim yang kalah dan tidak sampai tujuan umumnya dikarenakan pendayung kurang kompak dan banyak yang kelelahan serta menyerah di tengah jalan. Ilustrasi di atas yang didukung oleh hasil studi secara konsisten menunjukkan bahwa hubungan antara kekompakan dan produktivitas (kinerja) tim terutama tergantung pada norma kelompok,khususnya normanorma yang terkait dengan kinerja yang ditetapkan oleh tim.</p>
<p>Norma didefinisikan sebagai standar berperilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama dalam suatu kelompok.Norma menentukan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh setiap anggota kelompok pada situasi-situasi tertentu.Norma berfungsi sebagai kontrol internal terhadap perilaku kelompok. Sebagai contoh,sudah menjadi kesepakatan bersama di antara para pemain golf untuk tidak ber-bicara saat rekan bermainnya me-lakukan giliran memukul bola di lapangan. Contoh lainnya, dalam sebuah pameran perumahan yang dilaksanakan oleh sebuah pengembang besar, pengunjung yang didekati oleh salah satu staf pemasaran pasti akan ditanya apakah sebelumnya sudah pernah ditangani oleh staf pemasaran yang lain atau belum.</p>
<p>Bila sudah,maka ia akan menghubungi staf pemasaran yang dimaksud untuk melayani. Bila belum, barulah ia akan melayani.Saat ditanyakan mengapa demikian,dijelaskan bahwa hal itu sudah menjadi kesepakatan di antara para staf pemasaran yang ada. Jadi mereka tidak akan merebut calon pembeli yang sudah pernah didekati oleh rekan kerja. Kesepakatan bersama inilah yang disebut sebagai norma.</p>
<p>Sedangkan norma-norma kinerja adalah norma-norma yang menggambarkan kesepakatan tim terkait dengan kinerja, seperti misalnya seberapa keras usaha kerja yang harus dihasilkan,apa yang harus dilakukan agar pekerjaan terselesaikan, seberapa besar tingkat hasil kerja yang harus dicapai, seberapa besar tingkat keterlambatan kerja yang masih dapat ditolerir, dan kesepakatan-kesepakatan lainnya. Stephen P.Robbins,pakar perilaku organisasi, mengemukakan empat kombinasi hubungan antara kekompakan, norma-norma kinerja, dan produktivitas sebagaimana dapat dilihat pada gambar empat kuadran di bawah ini.</p>
<p>Tentu saja setiap organisasi berkeinginan agar produktivitas yang dicapai tinggi. Untuk itu situasi yang terbentuk haruslah merupakan kombinasi antara kekompakan tim yang tinggi dan norma-norma kinerja tim yang juga tinggi.Pertanyaannya sekarang, bagaimana membentuk tim yang kompak dan memiliki norma-norma kinerja yang tinggi? Syarat pertama yang bersifat wajib adalah tim harus memiliki dan menyepakati normanorma kinerja seperti apa yang akan menjadi pedoman bagi tim berperilaku,termasuk di dalamnya adalah menetapkan tujuan dan sasaran hasil yang ingin dicapai.</p>
<p>Setelah norma disepakati,baru dilakukan beberapa cara yang dapat meningkatkan kekompakan tim, di antaranya: membentuk tim yang tidak terlalu besar dan menambah intensitas pertemuan-pertemuan tim terutama yang bersifat informal yang bertujuan meningkatkan intensitas dan keeratan hubungan, meningkatkan status tim dengan memberikan penugasan yang bersifat menantang dan mengukuhkan keberhasilan-keberhasilan tim, mempertinggi tingkat persaingan di antara tim, serta memberlakukan sistem penghargaan berbasis kinerja tim. Salam kompak dan produktif!.(*)</p>
<p><strong>Dimuat: Harian Seputar Indonesia, Selasa, 5 Januari 2009 </strong></p>
<p>*Penulis adalah Manajer Pembinaan &amp; Penempatan Sekolah Tinggi Manajemen PPM</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=3&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/06/kekompakan-tim-dan-produktivitas-kerja-perlu-dijaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalmanajemen.files.wordpress.com/2010/01/team.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Team</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/05/hello-world/</link>
		<comments>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/05/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 07:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalmanajemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=1&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalmanajemen.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalmanajemen.wordpress.com&amp;blog=11255121&amp;post=1&amp;subd=jurnalmanajemen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalmanajemen.wordpress.com/2010/01/05/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69b305f6412758e07cdb939bd001e4b7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalmanajemen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
